ABSTRACT
This research was aimed to know
the ecological condition of mangrove forest at various thickness levels and its
influence on salinity of fresh water at surrounding area. This research was
conducted by analysis of sea water, fresh water, plankton, substrat (soil), and makrobenthos
at three location, those are : (1) mangrove with high thickness level (200-300
metre) in Tongke-Tongke Village, (2) mangrove with middle thickness level in
Panaikang Village and (3) location without mangrove in Pasimarannu Village. The
result of analysis showed that the rate of DO and BOD of sea water in Tongke-Tongke
were 5,76 ppm and 1,68 ppm, Panaikang village were 6,48 ppm and 3,63 ppm and
Pasimarannu village 6,72 pm and 3,36 ppm. Based on fresh water analysis, the
ecosystem of mangrove has significan influence to reduce salinity level. The
salinity of fresh water in location with highest thickness level is lowest
(Tongke-Tongke is 2.2 ppt) compared to others (Panaikang 2.4 ppt and
Pasimarannu 3.2 ppt). The result of substrat analysis showed similar result in
which the highest organic substance rate is in Tongke-Tongke followed by
Panaikang and Pasimarannu. Abundance of plankton and makrobentos in location
with highest thickness level is highest (Tongke-Tongke 210 individu/ml and 849
individu/m2) compared to others (Panaikang is 202 individu/ml and
815 individu/m2 and Pasimarannu village 132 individu/ml and 320
individu/m2)
Keywords : Mangrove, ecological condition, thickness
level
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekologis hutan mangrove pada berbagai
tingkat ketebalan serta pengaruhnya terhadap salinitas air sumur di sekitarnya.
Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh air laut, air sumur, plankton,
substrat dan makrobenthos pada tiga perwakilan kondisi yaitu pada mangrove
dengan tingkat ketebalan tinggi (200-300 meter) yang berlokasi di Desa
Tongke-Tongke, mangrove dengan tingkat ketebalan sedang (100-150 meter) yang
berlokasi di Desa Panaikang dan lokasi yang tanpa mangrove di Desa Pasimarannu.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar DO dan BOD air laut di Desa
Tongke-Tongke 5,76 ppm dan 1,68 ppm, Desa Panaikang 6,48 ppm dan 3,63 ppm dan Desa
Pasimarannu 6,72 ppm dan 3,36 ppm. Berdasarkan analisis kadar garam yang
dilakukan terhadap air sumur menunjukkan bahwa air sumur di sekitar lokasi
dengan tingkat ketebalan mangrove yang tinggi memiliki kadar garam terendah
(Tongke-Tongke sebesar 2,2 ppt) dibanding dengan yang lain (Panaikang sebesar
2,4 ppt dan Pasimarannu 3,2 ppt). Analisis terhadap substrat menunjukkan bahwa
bahan organik tertinggi terdapat di Desa Tongke-Tongke diikuti Desa Panaikang
dan Pasimarannu. Kelimpahan plankton dan makrobenthos tertinggi terdapat pada
lokasi dengan tingkat ketebalan mangrove tingi yaitu di Tongke-Tongke sebesar
210 individu/ml dan 849 individu/m2 diikuti Desa Panaikang 202
individu/ml dan 815 individu/m2 dan Desa Pasimarannu 132 individu/ml
dan 320 individu/m2.
Kata kunci : Mangrove, kondisi ekologis, tingkat ketebalan
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Secara umum hutan mangrove didefinisikan
sebagai tipe hutan yang tumbuh pada daerah pasang surut (terutama pantai yang
terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pada saat pasang dan bebas
genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap
garam. (Kusmana, et al., 2003). Fungsi hutan mangrove dapat digolongkan
menjadi tiga macam yaitu fungsi fisik, fungsi ekologis dan fungsi ekonomis. Fungsi hutan mangrove secara fisik
diantaranya : menjaga kestabilan garis pantai dan tebing sungai dari erosi atau
abrasi, mempercepat perluasan lahan dengan adanya jerapan endapan lumpur yang
terbawa oleh arus ke kawasan hutan mangrove, mengendalikan laju intrusi air
laut sehingga air sumur disekitarnya menjadi lebih tawar, melindungi daerah di
belakang mangrove dari hempasan gelombang, angin kencang dan bahaya tsunami.
Hasil penelitian di Teluk Grajagan, Banyuwangi, menunjukkan bahwa dengan adanya
hutan mangrove telah terjadi reduksi tinggi gelombang sebesar 0,7340 m dan
perubahan energi gelombang sebesar (E) 19635,26 joule (Pratikto, 2002).
Fungsi hutan
mangrove secara ekologis diantaranya sebagai tempat mencari makan (feeding ground), tempat memijah (spawning ground), dan tempat berkembang
biak (nursery ground) berbagai jenis
ikan, udang, kerang dan biota laut lainnya, tempat bersarang berbagai jenis
satwa liar terutama burung dan reptil. Bagi beberapa jenis burung, vegetasi
mangrove dimanfaatkan sebagai tempat istirahat, tidur bahkan bersarang. Selain itu, mangrove juga bermanfaat bagi
beberapa jenis burung migran sebagai lokasi antara (stop over area) dan tempat mencari makan, karena ekosistem mangrove
merupakan ekosistem yang kaya sehingga dapat menjamin ketersediaan pakan selama
musim migrasi (Howes et al, 2003).
Vegetasi mangrove juga memiliki kemampuan untuk memelihara kualitas air karena
vegetasi ini memiliki kemampuan
luar biasa untuk menyerap polutan (logam berat Pb, Cd dan Cu), di Evergaldes
negara bagian California Amerika Serikat, mangrove adalah komponen utama dalam
menyaring polutan sebelum dilepas ke laut bebas (Arisandi, 2010).
Fungsi ekologis
lain dari mangrove adalah sebagai penyerap karbon. Hasil valuasi ekonomi yang
dilakukan LPP mangrove tahun 2006 terhadap kawasan hutan mangrove di Batu
Ampar, Pontianak menyatakan bahwa, nilai manfaat hutan mangrove sebagai
penyerap karbon sebesar Rp 6.489.979.146,-. /tahun. Fungsi hutan mangrove secara ekonomis diantaranya adalah
hasil hutan berupa kayu, hasil hutan bukan kayu seperti madu, obat-obatan,
minuman, bahan makanan, tanin dan lain-lain, sumber bahan bakar (arang dan kayu
bakar). Nilai kalori yang terdapat pada arang kayu Rhiaophera
mucronata sebesar 7.300
kal/g. Pada tahun 1998 produksi arang mangrove sekitar 330.000 ton yang
sebagian besar diekspor dengan negara tujuan Jepang dan Taiwan melalui
Singapura. Harga ekspor arang mangrove sekitar US$ 1.000/10 ton, sedangkan
harga lokal antara Rp 400,- - Rp 700,-/kg. Jumlah ekspor arang mangrove tahun
1993 mencapai 83.000.000 kg dengan nilai US$ 13.000.000 (Inoue, et al., 1999 dalam Anwar dan Gunawan, 2006). Sementara itu di Sulawesi Selatan harga arang bakau satu
kantong plastik (ukuran 35 x 45) cm mencapai Rp 15.000,00
Perumusan
masalah pada penelitian ini adalah sejauhmana tingkat ketebalan mangrove
berpengaruh terhadap kondisi ekologisnya. Dengan mengetahui status ekologis
mangrove pada berbagai tingkat ketebalan maka akan dapat diketahui peranan
ekologis mangrove berdasarkan tingkat ketebalannya. Penelitian ini bertujuan
untuk mendapatkan informasi tentang status ekologi hutan mangrove pada berbagai
tingkat ketebalan serta pengaruhnya terhadap salinitas air sumur di sekitarnya.
II.
METODOLOGI
A.
Diskripsi
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian
dilaksanakan pada bulan April sampai November 2008. Lokasi penelitian berada di
tiga desa yang semuanya merupakan desa pantai yaitu Desa Tongke-Tongke, Desa
Panaikang dan Desa Pasimarannu, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai,
Propinsi Sulawesi Selatan. Jarak rata-rata antar desa adalah ±2 km.
B.
Alat dan
Bahan
Peralatan dan
bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tanah dan air, botol
sampel, skop tangan, plastik sampel, aquades, formalin PA 37%, Alkohol, MnSO4,
alkaliodida, rol meter, saringan makrobenthos 2 mm, ember 5 lt, pipet,
salinometer, cesidis, pH meter, kamera, termometer, buku dan alat tulis menulis
dan plankton net.
C.
Metode
Penelitian
Pengambilan
contoh air laut, plankton, substrat dan makrobenthos pada tiga perwakilan
kondisi yaitu pada mangrove dengan tingkat ketebalan tinggi (200-300 meter)
yang berlokasi di Desa Tongke-Tongke, mangrove dengan tingkat ketebalan sedang
(100-150 meter) yang berlokasi di Desa Panaikang dan lokasi yang tanpa mangrove
terdapat di Desa Pasimarannu. Dari ketiga lokasi tersebut diambil titik
pengambilan sampel pada zona luar , tengah dan zone pinggir dan selanjutnya
sampel tersebut dikomposit. Untuk pengambilan contoh air sumur dilakukan pada
jarak dekat (0-50 meter) dan jarak jauh (200-300 meter) dari mangrove. Contoh
air sumur dan air laut diambil dari lokasi penelitian sebanyak 600 ml, kemudian
air contoh disimpan pada suhu 4°C (dimasukkan dalam ice box) dan selanjutnya
dibawa ke Laboratorium Kualitas Air, Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan,
Universitas Hasanuddin.
Pengambilan
contoh substrat dilakukan dengan menggunakan skop tangan pada saat air surut
sebanyak ±1 kg. Substrat yang diambil adalah substrat dasar perairan. Contoh
substrat dimasukkan ke dalam kantong plastik kemudian disimpan pada suhu 4°C
(dimasukkan dalam ice box) dan
selanjutnya dibawa ke Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas
Hasanuddin.
Pengambilan
contoh plankton dilakukan dengan menggunakan alat plankton net 25 untuk menyaring air sebanyak 50 liter. Selanjutnya
air hasil saringan dimasukkan dalam botol plastik ukuran 100 ml dengan
ditambahkan pengawet formalin PA 4% sebanyak 3 ml. Pengambilan contoh
makrobenthos dilakukan dengan metode perangkap. Alat perangkap disini adalah sebuah tabung plastik yang berlubang
pada kedua sisinya dengan ukuran diameter 17 cm dan tinggi 15 cm. Alat
perangkap dibenamkan dalam subtrat sampai kedalaman 15 cm, kemudian substrat
yang ada dalam alat perangkap disaring dengan menggunakan saringan ukuran 2 mm.
Selanjutnya makrobenthos yang tersaring dimasukkan dalam botol plastik dan
direndam dalam pengawet formalin 10%.
D.
Analisis
Data
Analisis contoh
air laut, air sumur, substrat, plankton dan makrobenthos dilakukan untuk
mengetahui sifat fisik dan kimia sebagai indikator kesehatan perairan,
mengetahui tekstur tanah, kesuburan tanah dan kandungan bahan pencemar,
keanekaragaman jenis plankton dan makrobenthos. Beberapa rumus yang digunakan
dalam analisis ini adalah :
1.
Indeks keanekaragaman jenis (H’) dihitung berdasarkan
persamaan Shannon dan Wiener (Molles, 2002).
|
2.
Indeks
kemerataan jenis (E) dengan menggunakan rumus Pielow Evennes Indices (Ludwig
dan Reynolds, 1988) yaitu :
![]() |
3. Indeks kemiripan komunitas (Similarity index) antara dua contoh
dapat dihitung berdasarkan Sorenson’s index dengan rumus
(Cox, 2002) sebagai berikut:
![]() |
Nilai indeks kemiripan komunitas berkisar antara 0-1.
Semakin tinggi nilai indeks kemiripan, maka komunitas kedua sampel
semakin mirip.
4. Indeks Dominansi (D) dihitung dengan
menggunakan rumus (Odum, 1993) sebagai berikut :
![]() |
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Desa
Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu, Kec. Sinjai Timur,
Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Secara klimatologi daerah ini terletak pada
posisi iklim musim timur dimana bulan basah jatuh antara bulan April sampai
Oktober dan bulan kering antara bulan Oktober sampai April, dengan jumlah hari
hujan dalam setahun mencapai 126 hari. Desa Tongke-Tongke merupakan desa pantai
yang mempunyai luasan mencapai 4,75 km2. Secara keseluruhan berada
pada dataran rendah dengan ketinggian 0 – 500 meter dari permukaan laut. Jarak
dengan ibukota kecamatan 3 km, sedangkan jarak dengan ibukota kabupaten 5 km.
Luas hutan mangrove di Desa Tongke-Tongke mencapai 325 ha dengan didominasi
jenis Rhizophora mucronata.
Temperatur udara berkisar antara 30-35°C sedangkan temperatur air berkisar
antara 29-33°C.

Gambar 1. Peta
Lokasi Penelitian
Desa Panaikang merupakan salah
satu desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Sinjai Timur dengan total
luasan mencapai 4,72 km2. Secara umum topografi Desa Panaikang
merupakan dataran rendah dengan ketinggian 0 – 500 meter dari permukaan laut.
Jarak dengan ibukota kecamatan 3 km, sedangkan jarak dengan ibukota kabupaten 6
km. Luas hutan mangrove di Desa Panaikang mencapai 95,5 ha dengan didominasi
jenis Rhizophora mucronata.
Temperatur udara berkisar antara 28-32°C sedangkan temperatur air berkisar
antara 28-29,5°C.
Desa Pasimarannu termasuk dalam
wilayah Kecamatan Sinjai Timur dengan total luasan mencapai 3,40 km2.
Secara umum topografi Desa Pasimarannu merupakan dataran rendah dengan
ketinggian 0 – 500 meter dari permukaan laut. Jarak dengan ibukota kecamatan 4
km, sedangkan jarak dengan ibukota kabupaten 7 km. Perairan pesisir di Desa
Pasimarannu tidak terdapat hutan mangrove, sehingga penggunaan pesisir
pantainya lebih banyak dimanfaatkan untuk menambatkan perahu. Secara umum
penduduk di ketiga desa tersebut bermata pencaharian sebagai nelayan dan
petani. Rata-rata penduduk merupakan petani penggarap tambak.
B.
Karakteristik Substrat
Penelitian
tentang karakteristik substrat (tanah) sangat penting dilakukan untuk menunjang
kegiatan rehabilitasi mangrove. Dengan penelitian karakteristik substrat,
pemilihan jenis vegetasi untuk kegiatan rehabilitasi disesuaikan dengan
karakteristik substratnya sehingga tingkat keberhasilan rehabilitasi akan
semakin tinggi (Onrizal dan Cecep Kusmana, 2008). Dari hasil analisis terhadap
substrat tanah yang diambil dari dasar perairan menunjukkan bahwa pengukuran
parameter kimia di lokasi penelitian Desa Tongke-Tongke memiliki kandungan
C-Organik, P tersedia dan K lebih besar dari Desa Panaikang dan Desa
Pasimarannu, sedangkan kandungan unsuk N total dari ketiga lokasi penelitian
menunjukkan nilai yang sama sebesar 0.1% dan termasuk dalam kategori rendah.
Kandungan unsur
P tersedia dan K termasuk dalam harkat rendah. Unsur P tersedia dalam tanah bisa
berasal dari bahan organik, pemupukan maupun dari mineral dalam tanah. Unsur P tersedia banyak dibutuhkan tanaman untuk pembentukan bunga,
buah, biji, perkembangan akar dan untuk memperkuat batang agar tidak mudah
roboh. Ketersediaan unsur K dalam tanah bisa diperoleh dari mineral-mineral primer
dalam tanah. Unsur K hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu
yang larut dalam air.
Kandungan C-organik yang rendah menunjukkan
jumlah bahan organik dalam tanah rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa pada lokasi dengan tingkat
ketebalan mangrovenya tinggi, memiliki bahan organik yang lebih besar dari pada
lokasi yang tanpa terdapat mangrove. Dengan semakin melimpahnya bahan organik
akan menunjukkan bahwa perairan tersebut termasuk perairan yang sehat karena
bahan organik akan terdekomposisi dan selanjutnya menjadi makanan bagi
mikroorganisme. Secara umum bahan organik dapat memelihara
agregasi dan kelembaban tanah, penyedia energi bagi organisme tanah serta
penyedia unsur hara bagi tanaman. Bahan organik memiliki fungsi produktif yang
mendukung produksi biomassa tanaman dan fungsi protektif sebagai pemelihara
kesuburan tanah dan stabilitas biotik tanah (Hardjowigeno, 2003).
Nilai
Kapasitas Tukar Kation (KTK) pada semua lokasi berada pada harkat sedang. Nilai
KTK pada lokasi Desa Tongke-Tongke dan Desa Panaikang hampir sama, sedangkan di
Desa Pasimarannu jauh lebih rendah. Nilai KTK akan semakin meningkat seiring
dengan meningkatnya bahan organik tanah. Desa Tongke-Tongke dan Desa Panaikang
mempunyai bahan organik yang lebih besar dari pada Desa Pasimarannu karena
keberadaan vegetasi mangrovenya yang banyak memberikan bahan organik melului
proses dekomposisi seresah. Nilai KTK tanah yang rendah menunjukkan rendahnya kemampuan tanah untuk menjerap dan
menyediakan unsur hara bagi tanaman. Pada pengukuran pH tanah menunjukkan semua lokasi termasuk dalam
kategori agak masam dengan nilai antara 5,6 sampai 6,5. Nilai pH yang agak
masam dikarenakan adanya perombakan seresah vegetasi mangrove oleh
mikroorganisme tanah yang menghasilkan asam-asam organik sehingga menurunkan pH
tanah. Tingkat pH yang paling optimal adalah netral dengan nilai 6.6 sampai
7,5. Pada kondisi pH netral mudah bagi tanaman untuk
menyerap unsur hara.
Pada
pengamatan terhadap tekstur tanah menunjukkan bahwa di tiga lokasi penelitian
mempunyai klas tekstur yang berbeda-beda. Desa Tongke-Tongke mempunyai klas
tekstur tanah lempung liat berdebu, Desa Panaikang mempunyai klas tekstur
lempung liat berpasir dan Desa Pasimarannu mempunyai klas tekstur pasir. Hal
ini menunjukkan bahwa keberadaan vegetasi mangrove sangat berpengaruh terhadap
pembentukan klas tekstur tanah. Pada daerah dengan tingkat ketebalan mangrove
yang tinggi cenderung mempunyai klas tekstur lempung liat berdebu, hal ini disebabkan
karena adanya dekomposisi seresah yang ikut menentukan klas tekstur tanah dan adanya
pengikatan partikel debu dan liat oleh akar vegetasi mangrove sehingga lama-kelamaan
partikel tersebut akan mengendap dan membentuk lumpur. Sedangkan pada daerah
tanpa vegetasi mangrove klas teksturnya cenderung berpasir karena tidak adanya
vegetasi yang mengikat partikel lumpur.
Pada
pengamatan terhadap kandungan logam berat menunjukkan untuk kandungan Pb
terbesar terdapat di Desa Pasimarannu, sedangkan yang paling kecil terdapat di
Desa Panaikang. Tingginya kadar Pb di Desa Pasimarannu kemungkinan disebabkan
karena di sekitar lokasi dijadikan sebagai tempat mendarat kapal-kapal nelayan
sehingga dari sisa-sisa pembakaran mesin kapal menyebabkan kandungan Pb di
perairan menjadi tinggi. Untuk kandungan Hg terbesar di Desa Pasimarannu dan
terendah di Desa Tongke-Tongke. Kandungan logam berat secara umum masih berada
di bawah ambang batas, dimana untuk Pb nilai ambang batasnya adalah 0.05 ppm
sedangkan untuk Hg nilai ambang batasnya 0,005 ppm (Keputusan Menteri Negara
Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 1988). Keberadaan vegetasi
mangrove dianggap mampu mengurangi konsentrasi logam berat dalam perairan namun
untuk keakuratannya masih perlu dilakukan ujicoba di laboratorium. Hasil
analisis sifat fisika dan kimia substrat dasar perairan di Desa Tongke-Tongke,
Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu disajikan pada Tabel 1.
Tabel (Table) 1. Analisis sifat fisika dan
kimia substrat dasar perairan di Desa Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa
Pasimarannu (Analysis of physical and
chemical properties of elementary
water substrate in Tongke-Tongke, Panaikang and Pasimarannu)
|
No
|
Parameter (Parameters)
|
Satuan (Unit)
|
Lokasi (Site)
|
|||
|
Tongke-Tongke
|
Panaikang
|
Pasimaranu
|
||||
|
A
|
Kimia/ Chemicals
|
|
|
|
|
|
|
1
|
pH H20
|
|
6.25
|
6.15
|
6.05
|
|
|
2
|
pH KCl
|
|
4.75
|
5.2
|
5.8
|
|
|
3
|
C Organik
|
%
|
1.98
|
1.785
|
1.205
|
|
|
4
|
N Total
|
%
|
0.1
|
0.1
|
0.1
|
|
|
5
|
C/N Ratio
|
|
17.29
|
12.77
|
12.16
|
|
|
6
|
P tersedia
|
ppm
|
14.05
|
13.665
|
13.165
|
|
|
7
|
KTK
|
(cmol (+)kg -1
|
23.275
|
23.04
|
18.28
|
|
|
8
|
Ca
|
(cmol (+)kg -1
|
3.84
|
4.03
|
3.16
|
|
|
9
|
Mg
|
(cmol (+)kg -1
|
2.15
|
2.16
|
1.63
|
|
|
10
|
K
|
(cmol (+)kg -1
|
0.17
|
0.15
|
0.11
|
|
|
11
|
Na
|
(cmol (+)kg -1
|
0.14
|
0.125
|
0.18
|
|
|
B
|
Tekstur (Texture)
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Liat (Clay)
|
%
|
36.5
|
32
|
8
|
|
|
2
|
Debu (Silt)
|
%
|
52
|
21
|
2
|
|
|
3
|
Pasir (Sand)
|
%
|
11.5
|
47
|
91
|
|
|
4
|
Klas Tekstur (Class
Texture)
|
|
lempung liat berdebu (Silty clay loam)
|
lempung liat berpasir (Sandy clay
loam)
|
Pasir (Sand)
|
|
|
C
|
Logam Berat (Heavy Metal)
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Timbal (Pb)
|
ppm
|
0.04
|
0.02
|
0.05
|
|
|
2
|
Raksa (Hg)
|
ppm
|
Tidak terdeteksi
|
0.001
|
0.002
|
|
Keterangan (remarks) : Sampel dianalisis di Laboratorium Tanah
Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Samples was analyses at soil
laboratory Faculty of
agriculture, Hasanuddin University)
C.
Karakteristik Perairan
Pengamatan
terhadap parameter fisik air laut, secara umum semua unsur yang terkandung
dalam air sampel masih di bawah ambang batas yang diperbolehkan sesuai dengan
standar baku mutu air laut untuk biota laut menurut Keputusan Menteri Negara
Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 1988. Pengamatan parameter
fisik yang menarik dari ketiga lokasi penelitian ini karena ketiga lokasi
penelitian memiliki perbedaan yang mencolok pada parameter tingkat kekeruhan.
Nilai ambang batas untuk kekeruhan air laut adalah 30 NTU, sedangkan tingkat
kekeruhan air yang paling baik adalah 5 NTU. Nilai kekeruhan yang tertinggi di
Desa Pasimarannu sebesar 20 NTU disebabkan oleh banyaknya partikel yang terbawa
air laut karena lokasinya yang berdekatan dengan pemukiman dan akifitas perahu
nelayan, sedangkan di Desa Tongke-Tongke tingkat kekeruhan air yang mencapai 18
NTU disebabkan oleh hasil dekomposisi seresah mangrove.
Pada
pengamatan terhadap kualitas kimia air terhadap ketiga lokasi penelitian
menunjukkan bahwa semua lokasi masih bagus untuk perkembangan kehidupan biota
laut. Nilai ambang batas untuk parameter DO berkisar antara 4 sampai 6 ppm.
Jika nilai DO di bawah 4 ppm dan terjadi selama lebih dari 8 jam maka kehidupan
organisme dalam air bisa terancam. Kadar DO di lokasi penelitian termasuk bagus
karena rata-rata kadar DO 6 ppm. Kondisi perairan bisa dikategorikan sehat jika
nilai BOD kurang dari 25 ppm, dan jika lebih dari 25 ppm maka melebihi ambang batas
dan termasuk kategori air yang tercemar. Dengan kadar BOD kurang dari 25 ppm
maka penguraian bahan organik di alam akan berjalan dengan normal. Bahan
organik sangat bermanfaat sebagai pensuplai makanan bagi mikroorganisme. Hasil
analisis kualitas air laut di Desa Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa
Pasimarannu disajikan pada Tabel 2.
Tabel
(Table) 2. Parameter kualitas air
laut di Desa Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu. (Parameters of sea water quality in
Tongke-Tongke, Panaikang and Pasimarannu)
|
Parameter
(Parameters)
|
Satuan (Unit)
|
Lokasi (Site)
|
|||
|
Tongke-Tongke
|
Panaikang
|
Pasimarannu
|
|||
|
A
|
Fisika (Physics)
|
|
|
|
|
|
1
|
Salinitas
|
o/oo
|
23.3
|
24.8
|
28.4
|
|
2
|
Kekeruhan
|
NTU
|
18
|
7
|
20
|
|
3
|
Total Suspended Solids (TSS)
|
ppm
|
5.5
|
3.5
|
0.5
|
|
4
|
Total Dispended Solids (TDS)
|
ppm
|
128.64
|
124.82
|
129.93
|
|
B
|
Kimia (Chemicals)
|
|
|
|
|
|
1
|
pH H20
|
|
7.5
|
7.5
|
7.6
|
|
2
|
Iron (Fe)
|
ppm
|
0.02
|
0.445
|
0.445
|
|
3
|
Total Phosphorus (T-P)
|
ppm
|
0.32
|
0.44
|
0.42
|
|
4
|
Amoniak (NH3)
|
ppm
|
0.006
|
0.002
|
0
|
|
5
|
Nitrat (NO3)
|
ppm
|
0.217
|
0.281
|
0.487
|
|
6
|
Nitrit (NO2)
|
ppm
|
0.01
|
0.02
|
0.02
|
|
7
|
Dissolved Oxigen (DO)
|
ppm
|
5.76
|
6.48
|
6.72
|
|
8
|
Biochemical Oxygen
Demand (BOD)
|
ppm
|
1.68
|
3.625
|
3.36
|
|
9
|
Chemical Oxygen Demand (COD)
|
ppm
|
14.32
|
14.32
|
20.012
|
Keterangan (remarks): Sampel dianalisis di Laboratorium
Kualitas air Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin
(Samples was analyses at water quality laboratory Faculty of
Science Fishery and Oceaninc, Hasanuddin University)
D.
Karakteristik Air Sumur
Pengamatan
terhadap parameter fisik air sumur untuk salinitas air, menunjukkan bahwa di
Desa Tongke-Tongke dengan tingkat ketebalan mangrove paling tinggi mempunyai
tingkat salinitas lebih rendah dibanding dengan yang lain. Tingkat salinitas
air sumur yang berjarak 0-50 m dari pantai yang paling rendah terdapat pada air
sumur di Desa Tongke-Tongke yaitu sebesar 2,2 ppm, kemudian Desa Panaikang
sebesar 2,43 ppm dan tertinggi Desa Pasimarannu sebesar 3,16 ppm. Tingkat
salinitas air sumur yang berjarak 200-300 m dari pantai yang paling rendah
terdapat pada air sumur di Desa Tongke-Tongke yaitu sebesar 0,1 ppm, kemudian
Desa Panaikang sebesar 0,24 ppm dan tertinggi Desa Pasimarannu sebesar 0,7 ppm.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1990 tentang pengendalian
pencemaran air, penggolongan air menurut peruntukannya dimasukkan dalam air
golongan B yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku untuk air minum.
Berdasarkan peraturan tersebut untuk parameter nitrat (NO3) ambang
batas maksimum 10 ppm dan nitrit (NO2) ambang batas maksimum 1 ppm,
jadi air sumur di ketiga lokasi penelitian masih berada di bawah ambang batas,
namun untuk parameter salinitas yang paling baik adalah air sumur yang berjarak
200-300 m dari pantai di Desa Tongke-Tongke dengan kadar salinitas 0,1 ppt sehingga
rasa asin airnya tidak begitu terasa dan layak dikonsumsi. Parameter kualitas
air sumur di Desa Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu disajikan
pada Tabel 3.
Tabel (Table) 3. Parameter kualitas air sumur
di Desa Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu (Parameters of fresh water quality in Tongke-Tongke,
Panaikang and Pasimarannu)
|
No
|
Parameter analisis
(Analyses parameter)
|
Satuan (Unit)
|
Tongke-Tongke
|
Panaikang
|
Pasimarannu
|
|||
|
Jarak (distance)(m)
|
Jarak
(distance)(m)
|
Jarak
(distance)(m)
|
||||||
|
0 - 50
|
200 - 300
|
0 - 50
|
200 - 300
|
0 - 50
|
200 - 300
|
|||
|
A
|
Fisika (Physics)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Salinitas
|
ppt
|
2.2
|
0.1
|
2.43
|
0.24
|
3.16
|
0.7
|
|
2
|
Kekeruhan
|
NTU
|
12.5
|
10.5
|
12
|
2.5
|
46.5
|
3.5
|
|
3
|
Total Suspended Solids (TSS)
|
ppm
|
1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
4
|
Total Dispended Solids (TDS)
|
g/1
|
5.975
|
2.37
|
9.8085
|
3.025
|
4.04
|
2.875
|
|
B
|
Kimia (Chemicals)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
pH H20
|
|
7.23
|
7.285
|
7.235
|
7.01
|
7.49
|
7.345
|
|
2
|
Iron (Fe)
|
ppm
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
3
|
Total Phosphorus (T-P)
|
ppm
|
4.88
|
0.93
|
12.15
|
0.61
|
7.67
|
0.71
|
|
4
|
Amoniak (NH3)
|
ppm
|
0.005
|
0.004
|
0.003
|
0.006
|
0.004
|
0.002
|
|
5
|
Nitrat (NO3)
|
ppm
|
0.025
|
0.058
|
0.176
|
0
|
0.462
|
0.006
|
|
6
|
Nitrit (NO2)
|
ppm
|
0.056
|
0
|
0.039
|
0.014
|
0.694
|
0.030
|
|
7
|
Carbon Dioxide (CO2)
|
ppm
|
7.99
|
5.99
|
9.99
|
11.99
|
4.00
|
5.99
|
|
8
|
Chemical Oxygen Demand (COD)
|
ppm
|
15.448
|
12.884
|
11.288
|
13.384
|
15.948
|
11.82
|
Keterangan (remarks): Sampel dianalisis di Laboratorium
Kualitas air Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin
(Samples was analyses at water quality laboratory Faculty of
Science Fishery and Oceaninc, Hasanuddin University)
E.
Kelimpahan Plankton
Dari aspek
kelimpahan plankton di ketiga lokasi penelitian menunjukkan perbedaan yang
cukup nyata antara lokasi yang terdapat mangrove dengan lokasi yang tanpa
mangrove, namun dari segi keragaman jenis plankton tidak memiliki perbedaan
yang mencolok. Perhitungan indeks keanekaragaman Shanon-Wiener menunjukkan bahwa di ketiga lokasi
penelitian mempunyai tingkat keaneragaman jenis yang tinggi (H’>3-4).
Tingkat keanekaragaman tertinggi terdapat pada perairan di Desa Tongke-Tongke
dengan H’= 3,5108. Tingkat keanekaragaman yang tinggi menunjukkan kemantapan
atau kestabilan lingkungan. Perhitungan indeks kemerataan jenis menunjukkan bahwa ketiga lokasi mempunyai
indeks kemerataan yang relatif homogen sekitar 0,9. Indeks kemerataan yang
tinggi menunjukkan bahwa distribusi individu plankton relatif merata. Data kelimpahan plankton di perairan Desa Tongke-Tongke,
Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu disajikan pada Tabel 4.
Tabel (Table) 4. Kelimpahan Plankton di perairan Desa Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu (The
abundance of plankton in Tongke-Tongke,
Panaikang and Pasimarannu)
|
No
|
Organisme (Organisms)
|
Lokasi (location)
|
||
|
Tongke-Tongke
|
Panaikang
|
Pasimarannu
|
||
|
A
|
Class : Cyanophieae
|
|
|
|
|
1
|
Anabaenopsis raciborskii
|
5
|
7
|
7
|
|
2
|
Dactylococopsis raphidioedes
|
0
|
5
|
3
|
|
3
|
Trichodesmium erytherum
|
0
|
1
|
3
|
|
4
|
Cylindrospermum tricotospermum
|
0
|
1
|
2
|
|
5
|
Colothrix
|
4
|
5
|
4
|
|
6
|
Glocotricha cehinulata
|
7
|
0
|
0
|
|
7
|
Microcystus airuginosa
|
5
|
10
|
2
|
|
B
|
Class : Chlorophiceae
|
|
|
|
|
1
|
Volvux sp
|
3
|
0
|
2
|
|
2
|
Eudorina wallichii
|
2
|
1
|
0
|
|
3
|
Glocosystus venulosa
|
1
|
7
|
0
|
|
4
|
Kirchenerlella chinolata
|
0
|
4
|
3
|
|
5
|
Poliedrum trigonum
|
0
|
0
|
4
|
|
6
|
Schroedern setigera
|
8
|
0
|
0
|
|
7
|
Chlorella sp.
|
8
|
7
|
4
|
|
8
|
Characium blongipes
|
7
|
4
|
6
|
|
9
|
Polyedrium lobolatum
|
6
|
10
|
1
|
|
10
|
Cylindrospermum tricoto
|
0
|
7
|
0
|
|
11
|
Sorastrum bindicus
|
4
|
0
|
2
|
|
12
|
Scehenedesmus obligus
|
0
|
0
|
2
|
|
C
|
Class : Ciliata
|
|
|
|
|
1
|
Lactarin sp
|
1
|
2
|
0
|
|
2
|
Lacrimaria sp.
|
8
|
6
|
6
|
|
D
|
Class : Desmidiaceae
|
|
|
|
|
1
|
Penium cylindrus
|
2
|
1
|
0
|
|
2
|
Closterium kuetzinggi
|
7
|
9
|
4
|
|
3
|
Hyalotheca dissilensis
|
9
|
10
|
2
|
|
4
|
Gonatozygon monotaenium
|
9
|
4
|
7
|
|
5
|
Gronbladia neclegta
|
8
|
0
|
3
|
|
E
|
Class : Diatom laut
|
|
|
|
|
1
|
Bacteriastrum delicatulum
|
8
|
5
|
4
|
|
2
|
Chaetoceros peruvianum
|
7
|
5
|
5
|
|
3
|
Chaetoceros pseudocurvisetum
|
5
|
4
|
2
|
|
4
|
Lauderia borealis
|
10
|
4
|
3
|
|
5
|
Rhizosolenia clevei
|
10
|
4
|
2
|
|
6
|
Skeletonema costatum
|
6
|
16
|
1
|
|
F
|
Class : Entomostrata
|
|
|
|
|
1
|
Anchialina typica
|
7
|
14
|
5
|
|
2
|
Conthocamphus
|
4
|
3
|
1
|
|
G
|
Class : Euglenophyta
|
|
|
|
|
1
|
Chaetoceros teres
|
4
|
5
|
11
|
|
2
|
Phacus pleuronecthus
|
6
|
2
|
4
|
|
3
|
Euglena haematodes
|
1
|
4
|
1
|
|
H
|
Class : Pyprophita
|
|
|
|
|
1
|
Noctiluen miliaris
|
7
|
6
|
3
|
|
I
|
Class : Rhizopoda
|
|
|
|
|
1
|
Heliospora (Radiolaria)
|
7
|
6
|
4
|
|
J
|
Class : Rotatoria
|
|
|
|
|
1
|
Cathypna ungulata
|
7
|
9
|
4
|
|
2
|
Rotifer citrinus
|
4
|
4
|
7
|
|
3
|
Monoatyla lunaria
|
6
|
3
|
3
|
|
4
|
Rotifer neptunius
|
2
|
0
|
2
|
|
K
|
Class : Xantophyta
|
|
|
|
|
1
|
Clooramoeba heteromorpha
|
4
|
3
|
3
|
|
Jumlah
individu/ml
|
210
|
202
|
132
|
|
|
Jumlah
taksa
|
37
|
38
|
37
|
|
|
Indeks
keanekaragaman jenis (‘H)
|
3,5108
|
3,4571
|
3,4582
|
|
|
Indeks
kemerataan jenis (E)
|
0,9723
|
0,9504
|
0,9577
|
|
Keterangan (remarks): Sampel dianalisis di Laboratorium Kualitas air Fakultas Ilmu
Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin (Samples was analyses at water quality laboratory Faculty of
Science Fishery and Oceaninc, Hasanuddin University)
Dari
penghitungan indeks dominansi didapatkan hasil bahwa diketiga lokasi penelitian
tidak ada satu klas yang mendominasi karena indeks dominansi di ketiga lokasi
penelitian mempunyai tingkat dominansi yang rendah (<0,5). Indeks kemiripan
komunitas di ketiga lokasi penelitian menunjukkan angka diatas 0,8 yang berarti
bahwa jenis-jenis plankton yang ada di ketiga lokasi penelitian mempunyai
tingkat kemiripan yang tinggi. Indeks dominansi jenis plankton pada tiap-tiap
klas di perairan Desa Tongke-Tongke,
Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu disajikan pada Tabel 5.
Tabel (Table) 5. Indeks dominansi jenis plankton pada tiap-tiap klas di perairan Desa Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu (Dominansion index of plankton in Tongke-Tongke,
Panaikang and Pasimarannu)
|
No
|
Klas
(Class)
|
Indeks
dominansi jenis/Dominansion index
|
||
|
Tongke-Tongke
|
Panaikang
|
Pasimarannu
|
||
|
1
|
Cyanophieae
|
0,10
|
0,14
|
0,16
|
|
2
|
Chlorophiceae
|
0,19
|
0,20
|
0,18
|
|
3
|
Ciliata
|
0,04
|
0,04
|
0,05
|
|
4
|
Desmidiaceae
|
0,17
|
0,12
|
0,12
|
|
5
|
Diatom laut
|
0,22
|
0,19
|
0,13
|
|
6
|
Entomostrata
|
0,05
|
0,08
|
0,05
|
|
7
|
Euglenophyta
|
0,05
|
0,05
|
0,12
|
|
8
|
Pyprophita
|
0,03
|
0,03
|
0,02
|
|
9
|
Rhizopoda
|
0,03
|
0,03
|
0,03
|
|
10
|
Rotatoria
|
0,09
|
0,08
|
0,12
|
|
11
|
Xantophyta
|
0,02
|
0,02
|
0,02
|
Keterangan (remarks): Hasil pengolahan data primer (Result of
processing primary data)
F.
Kelimpahan Makrobenthos
Dari aspek kelimpahan makrobenthos
di ketiga lokasi penelitian menunjukkan perbedaan yang cukup nyata antara
lokasi yang terdapat mangrove dengan lokasi yang tanpa mangrove, Perhitungan
indeks keanekaragaman Shanon-Wiener menunjukkan bahwa di ketiga lokasi penelitian mempunyai tingkat
keanekaragaman yang homogen yaitu berada pada tingkat sedang (H’>2-3).
Tingkat keanekaragaman tertinggi terdapat pada perairan di Desa Panaikang
dengan H’ = 2,8964. Perhitungan indeks kemerataan jenis menunjukkan bahwa ketiga lokasi mempunyai
indeks kemerataan yang relatif homogen sekitar 0,9. Indeks kemerataan jenis
tertinggi terdapat di perairan Desa Panaikang dengan E = 0,9514. Ini menunjukkan bahwa distribusi individu
makrobenthos merata di seluruh perairan Desa Panaikang. Data kelimpahan makrobenthos di perairan Desa Tongke-Tongke,
Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu disajikan pada Tabel 6.
Tabel (Table) 6. Kelimpahan makrobenthos di perairan Desa Tongke-Tongke, Desa
Panaikang dan Desa Pasimarannu (The abundance of makrobenthos in Tongke-Tongke,
Panaikang and Pasimarannu)
|
No
|
Organisme (Organisms)
|
Lokasi (location)
|
||
|
Tongke-Tongke
|
Panaikang
|
Pasimarannu
|
||
|
A.
|
Gastropoda
|
|
|
|
|
1
|
Cerithium columna
|
5
|
5
|
1
|
|
2
|
Terebralia sulkata
|
2
|
4
|
1
|
|
3
|
Cerithidea sp
|
1
|
6
|
4
|
|
4
|
Clypeomorus coralium
|
3
|
2
|
1
|
|
5
|
Saccostrea cuculata
|
2
|
3
|
1
|
|
6
|
Melanoides
|
2
|
2
|
1
|
|
7
|
Conus spp
|
4
|
1
|
8
|
|
8
|
Terebra sp
|
4
|
4
|
2
|
|
9
|
Viviparus subpurpureus
|
1
|
8
|
0
|
|
10
|
Tulotoma magnifica
|
1
|
0
|
0
|
|
11
|
Tarebia granifera
|
21
|
4
|
0
|
|
12
|
Stygopyrgus bartonensis
|
0
|
1
|
0
|
|
B.
|
Bivalvia
|
|
|
|
|
1
|
Anadara granosa
|
2
|
6
|
0
|
|
2
|
Perna piridis
|
2
|
3
|
2
|
|
3
|
Hyatula chirensis
|
5
|
3
|
1
|
|
4
|
Modiolus sp
|
3
|
6
|
0
|
|
5
|
Pinctada maxima
|
3
|
1
|
1
|
|
6
|
Codakia punctada
|
2
|
3
|
0
|
|
7
|
Corculum cardissa
|
7
|
3
|
1
|
|
8
|
Hippopus hippopus
|
3
|
5
|
4
|
|
9
|
Tridacna gigas
|
2
|
3
|
1
|
|
C.
|
0
|
0
|
0
|
|
|
1
|
Macrobrachium sp
|
1
|
0
|
0
|
|
2
|
Eriocheir sp
|
1
|
0
|
0
|
|
3
|
Grapsus grapsus
|
0
|
1
|
0
|
|
Jumlah
individu/sampel
|
77
|
74
|
29
|
|
|
Jumlah
taksa
|
22
|
21
|
14
|
|
|
Indeks
keanekaragaman jenis (H’)
|
2,6863
|
2,8964
|
2,3156
|
|
|
Indeks
kemerataan jenis (E)
|
0,8691
|
0,9514
|
0,8774
|
|
Keterangan (remarks) : Sampel dianalisis di Laboratorium
Kualitas air Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin
(Samples was analyses at water quality laboratory Faculty of
Science Fishery and Oceaninc, Hasanuddin University)
Dari penghitungan indeks
dominansi didapatkan hasil bahwa diketiga lokasi penelitian ada satu klas yang
mendominasi yaitu Gastropoda dengan
indeks dominansi di ketiga lokasi penelitian (>0,5). Indeks kemiripan
komunitas di ketiga lokasi penelitian menunjukkan berkisar antara 0,7 sampai
0,8 yang berarti bahwa jenis-jenis makrobenthos yang ada di ketiga lokasi
penelitian mempunyai tingkat kemiripan yang tinggi. Indeks dominansi jenis makrobenthos pada
tiap-tiap klas di perairan Desa Tongke-Tongke,
Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu disajikan pada Tabel 7.
Tabel (Table) 7. Indeks dominansi jenis
makrobenthos pada tiap-tiap klas di perairan
Desa Tongke-Tongke, Desa Panaikang dan Desa Pasimarannu (Dominansion index of makrobenthos in Tongke-Tongke
village, Panaikang and Pasimarannu)
|
No
|
Klas
(Class)
|
Indeks
dominansi jenis/Dominansion index(%)
|
||
|
Tongke-Tongke
|
Panaikang
|
Pasimarannu
|
||
|
1
|
Gastropoda
|
0,60
|
0,54
|
0,66
|
|
2
|
Bivalvia
|
0,38
|
0,45
|
0,35
|
|
3
|
Crustaceae
|
0,03
|
0,01
|
0
|
Keterangan (remarks) :Hasil pengolahan data primer (Result of
processing primary data)
IV.
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Kandungan bahan
organik pada daerah dengan tingkat ketebalan mangrove tinggi lebih besar dari
pada daerah dengan tingkat ketebalan mangrove sedang dan tanpa vegetasi
mangrove. Vegetasi mangrove menghasilkan bahan organik melalui proses
dekomposisi seresah yang sangat bermafaat sebagai pensuplai makanan bagi
mikroorganime. Kualitas air laut secara umum di tiga lokasi penelitian masih
berada di bawah ambang batas sehingga biota laut bisa hidup dengan normal.
Perbedaan yang mencolok terlihat pada tingkat kekeruhan, dimana lokasi dengan
tingkat ketebalan mangrove tinggi lebih keruh karena proses dekomposisi
seresah. Tingkat salinitas air sumur paling rendah terdapat pada sumur yang
terletak di lokasi dengan tingkat ketebalan mangrove tinggi, dengan demikian
vegetasi mangrove berperan dalam meminimalisir intrusi air laut. Pada perairan
dengan tingkat ketebalan mangrove yang tinggi memiliki kelimpahan plankton dan
makrobenthos lebih tinggi bila dibandingkan dengan lokasi dengan tingkat
ketebalan mangrove sedang dan tanpa mangrove. Dengan demikian kehidupan biota pada lokasi yang ditumbuhi
mangrove dapat berjalan seimbang karena plankton dapat berperan sebagai
produsen dalam rantai makanan.
B.
Saran
Perlunya
penelitian lebih lanjut tentang berbagai macam pemanfaatan mangrove dalam
menunjang kehidupan manusia utamanya masyarakat pesisir.Perlu adanya
sosialisasi ke masyarakat, pemerintah mengenai manfaat ekosistem mangerove dan
dampaknya bagi kehidupan masyarakat.
UCAPAN
TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
disampaikan kepada Balai Penelitian Kehutanan Makassar, masyarakat Desa
Panaikang, Tongke-Tongke dan Pasimarannu serta staf Dinas Kehutanan Kab. Sinjai
dan semua pihak yang telah membantu dalam proses pengambilan data.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar