Kamis, 28 Februari 2013

ANALISIS TINGKAT KEMAMPUAN LAHAN DAN ARAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI DAS OPAK

LAND CAPABILITY AND LAND SUITABILITY ANALYSIS


By : Heru Setiawan

Latar Belakang
Kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan sumberdaya yang tidak terkendali  telah mengakibatkan kerugian yang menyebabkan bencana dimana-mana. Tidak terhitung kerugian baik materi maupun hilangnya nyawa dikarenakan kerusakan lingkungan. Banjir bandang di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau merupakan salah satu indicator untuk menilai kesehatan sebuah daerah aliran sungai (DAS). Hal ini menunjukkan fenomena perubahantata air sebagai bentuk respon alam atas interaksi alam dan manusia dalam system pengelolaan. 
Berbagai bentuk bencana yang terjadi diawali dengan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahan berpotensi besar menimbulkan bahaya erosi dan penurunan produktifitas lahan. Erosi yang terjadi dapat meningkatkan kerentanan bencana banjir diwilayah. Upaya antisipasi dalam menekan laju erosi pada wilayah dengan karakteristik fisiografis pegunungan tersebut dapat dilakukan melalui upaya pengelolaan lahan yang bijaksana. Mengingat sebagian penduduk yang berada di wilayah tersebut merupakan petani, maka perlu dirumuskan arahan fungsi pemanfaatan lahan dengan pendekatan kemampuan lahan. Analisis kemampuan lahan dan evaluasi kondisi landuse merupakan kegiatan yang penting dilakukan terutama oleh pihak pengelola dan local government agar kelanjutan bencana di kemudian hari dapat di tekan seminimal mungkin.

Tujuan
1.    Untuk mengetahui kelas kemampuan lahan DAS Opak
2.    Untuk merumuskan arahan penggunaan lahan yang sesuai di DAS Opak

Tools
1.      Sofware : ArcGIS
2.      MS Exel , LCLP

Studi Area
Secara administrasi daerah penelitian berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang meliputi Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta dan sebagian kecil di berada di Propinsi Jawa Tengah yaitu di Kabupaten Klaten. Posisi DAS Opak secara geografis, sebelah barat berbatasan dengan DAS Progo, sebelah timur laut berbatasan dengan DAS Bengawan Solo, sebelah utara berbatasan dengan lereng Gunung Merapi, sebelah tenggara berbatasan dengan sistem sungai daerah karst Gunung Kidul dan sebelah selatan berbatasan dengan pertemuan Sungai Opak-Oyo. 
Secara fisiografis DAS Opak terletak di lereng selatan Gunung Merapi sampai dengan Graben Bantul. DAS Opak bagian utara relief bergunung hingga bergelombang dengan kemiringan lebih besar dari 15% hingga lebih dari 40%, dengan pola aliran radial sentripetal yang rapat dari sunga-sungai orde satu dan dua. DAS Opak bagian tengah berupa dataran kaki Gunung Merapi. Kepadatan alur sungai disini mulai jarang. Terdapat perbukitan struktural Baturagung dengan kemiringan lereng antara 25% hingga 40 % yang merupakan jalur patahan yang membentang dari utara hingga selatan dan bermaterial batuan breksi vilkanik dan tuff. DAS Opak bagian selatan merupakan dataran fluviovulkan dengan kemiringan antara 0% hingga 8% dan bertopografi datar hingga landai. Material berupa alluvium endapan sungai dan endapan volkanik yang terbawa oleh air karena erosi, dataran fluviovolkan terletak di bawah dataran kaki Gunung Merapi hingga mendekati perteman Sungai Opak dan Sungai Oyo.

Hasil dan Pembahasan
Pada paper ini, evaluasi kemampuan lahan dilakukan menggunakan metoda matching. Dalam metoda matching dilakukan pembandingan antara nilai faktor pembatas pada unit lahan dengan tabel konversi. Parameter faktor pembatas yang digunakan dalam penilaian kelas kemampuan lahan diantaranya adalah tekstur lapisan atas, tekstur lapisan bawah, lereng permukaan, drainase, kedalaman tanah, tingkat erosi, kepekaan terhadap erosi, komposisi kerikil/batuan, permeabilitas, ancaman terhadap bahaya banjir dan ancaman terhadap bahaya longsor. Penentuan kesesuaian penggunaan lahan dilakukan dengan metode overlay peta penggunaan lahan saat ini dengan peta kelas kemampuan lahan. Hasil analisis kemampuan lahan di DAS Opak dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini :

Tabel 1. Hasil Analisis Kemampuan Lahan di DAS Opak

No
Kelas Kemampuan Lahan
%
1
III
16,648.70
32.83
2
IV
230.07
0.45
3
V
23,805.88
46.94
4
VI
6,861.15
13.53
5
VII
554.16
1.09
6
VIII
2,614.80
5.16
Luas Total
50,714.76
100

Dari data yang terdapat pada tabel 1, dapat di ketahui bahwa sebagian besar wilayah DAS Opak termasuk dalam kategori mempunyai kelas kemampuan lahan V sebesar 46,94%, kemudian kelas kemampuan lahan III dengan prosentase mencapai 32,83%, kelas VI sebanyak 13,53%, kelas VIII dengan 5,16%, kelas VII dengan 5,16% dan terkecil kelas IV dengan 0.45%. Kelas kemampuan III merupakan kelas lahan untuk pertanian extensive dengan tindakan konservasi pada tingkat sedang, kelas IV merupakan pertanian marginan dengan tindakan konservasi yang tinggi, kelas V merupakan lahan yang tidak bias digunakan untuk lahan pertanian, pemanfaatannya lebih diarahakan untuk padang rumput dan padang penggembalaan, kelas VI merupakan padang penggembalaan terbatas dan perkebunan, kelas VII merupakan hutan produksi dan kelas 8 merupakan hutan lindung dan cagar alam. Peta kelas kemampuan lahan di DAS Opak dapat disajikan dalam gambar dibawah


Gambar 1. Peta Kelas Kemampuan Lahan DAS Opak 


Kelas keserasian lahan diperoleh dengan melakukan proses overlay antara peta kelas kemampuan lahan dengan peta penggunaan lahan. Dari hasil overlay peta didapatkan data sebagai berikut :

 
Tabel 2. Keserasian Lahan di DAS Opak

No
Luas (Ha)
%
1
Serasi
18,774.77
37.02
2
Tidak Serasi
31,940.00
62.98
Luas Total
50,714.76
100

Dari data yang terdapat pada tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar luasan lahan di DAS Opak tidak sesuai dengan peruntukannya. Sebanyak 62,98% kawasan DAS Opak penggunaan lahannya tidak sesuai dengan peruntukannya, sedangkan 37,02% kawasan sudah sesuai dengan peruntukannya. Peta keserasian lahan di DAS Opak dapat dilihat pada gambar dibawah ini: 

Upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah di wilayah DAS Opak sangat perlu untuk segera dilaksanakan. Pola pengelolaan lahan saat ini terutama pada jenis penggunaan lahan ladang/tegalan memiliki kontribusi yang sangat tinggi terhadap terjadinya erosi dan tanah longsor dan bahaya banjir. Hal ini perlu segera dilakukan perubahan pola pemanfaatan lahan tersebut sesuai dengan kaidah konservasi tanah dan air, sehingga perlu ditunjang oleh upaya pembinaan dan bimbingan teknis oleh petugas dari sektor pertanian dan sektor terkait lainnya.

Kesimpulan
  1. Wilayah DAS Opak terdiri atas enam kelas kemampuan lahan yang terdiri atas kelas kemampuan lahan V dengan prosentase 46,94%, kemudian kelas kemampuan lahan III dengan prosentase mencapai 32,83%, kelas VI sebanyak 13,53%, kelas VIII dengan 5,16%, kelas VII dengan 5,16% dan terkecil kelas IV dengan 0.45%.
  2. Berdasarkan analisis tingkat keserasian lahan, 62,98% wilayah DAS Opak termasuk dalam kategori serasi dan 37,02% termasuk dalam kategori tidak serasi. Upaya perbaikan kondisi lahan dapat dilakukan dengan aplikasi teknik konservasi tanah dan air secara vegetative dan sipil mekanis.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar