LAND CAPABILITY AND LAND SUITABILITY ANALYSIS
By : Heru Setiawan
By : Heru Setiawan
Latar Belakang
Kerusakan
lingkungan akibat pemanfaatan sumberdaya yang tidak terkendali telah mengakibatkan kerugian yang menyebabkan
bencana dimana-mana. Tidak terhitung kerugian baik materi maupun hilangnya
nyawa dikarenakan kerusakan lingkungan. Banjir bandang di musim hujan dan
kekeringan di musim kemarau merupakan salah satu indicator untuk menilai
kesehatan sebuah daerah aliran sungai (DAS). Hal ini menunjukkan fenomena
perubahantata air sebagai bentuk respon alam atas interaksi alam dan manusia
dalam system pengelolaan.
Berbagai bentuk bencana yang terjadi diawali
dengan pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Pemanfaatan
lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahan berpotensi besar menimbulkan
bahaya erosi dan penurunan produktifitas lahan. Erosi yang terjadi dapat
meningkatkan kerentanan bencana banjir diwilayah. Upaya antisipasi dalam
menekan laju erosi pada wilayah dengan karakteristik fisiografis pegunungan
tersebut dapat dilakukan melalui upaya pengelolaan lahan yang bijaksana.
Mengingat sebagian penduduk yang berada di wilayah tersebut merupakan petani,
maka perlu dirumuskan arahan fungsi pemanfaatan lahan dengan pendekatan
kemampuan lahan. Analisis kemampuan lahan dan evaluasi kondisi landuse
merupakan kegiatan yang penting dilakukan terutama oleh pihak pengelola dan
local government agar kelanjutan bencana di kemudian hari dapat di tekan
seminimal mungkin.
Tujuan
1. Untuk mengetahui kelas kemampuan lahan DAS Opak
2. Untuk merumuskan arahan penggunaan lahan yang sesuai di DAS Opak
Tools
1.
Sofware : ArcGIS
2. MS Exel , LCLP
Studi
Area
Secara
administrasi daerah penelitian berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
yang meliputi Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta dan
sebagian kecil di berada di Propinsi Jawa Tengah yaitu di Kabupaten Klaten.
Posisi DAS Opak secara geografis, sebelah barat berbatasan dengan DAS Progo,
sebelah timur laut berbatasan dengan DAS Bengawan Solo, sebelah utara
berbatasan dengan lereng Gunung Merapi, sebelah tenggara berbatasan dengan
sistem sungai daerah karst Gunung Kidul dan sebelah selatan berbatasan dengan
pertemuan Sungai Opak-Oyo.
Secara fisiografis DAS Opak terletak di lereng
selatan Gunung Merapi sampai dengan Graben Bantul. DAS Opak bagian utara relief
bergunung hingga bergelombang dengan kemiringan lebih besar dari 15% hingga lebih
dari 40%, dengan pola aliran radial sentripetal yang rapat dari sunga-sungai
orde satu dan dua. DAS Opak bagian tengah berupa dataran kaki Gunung Merapi.
Kepadatan alur sungai disini mulai jarang. Terdapat perbukitan struktural
Baturagung dengan kemiringan lereng antara 25% hingga 40 % yang merupakan jalur
patahan yang membentang dari utara hingga selatan dan bermaterial batuan breksi
vilkanik dan tuff. DAS Opak bagian selatan merupakan dataran fluviovulkan
dengan kemiringan antara 0% hingga 8% dan bertopografi datar hingga landai.
Material berupa alluvium endapan sungai dan endapan volkanik yang terbawa oleh
air karena erosi, dataran fluviovolkan terletak di bawah dataran kaki Gunung
Merapi hingga mendekati perteman Sungai Opak dan Sungai Oyo.
Hasil
dan Pembahasan
Pada
paper ini, evaluasi kemampuan lahan dilakukan menggunakan metoda matching.
Dalam metoda matching dilakukan pembandingan antara nilai faktor pembatas pada
unit lahan dengan tabel konversi. Parameter faktor
pembatas yang digunakan dalam penilaian kelas kemampuan lahan diantaranya
adalah tekstur lapisan atas, tekstur lapisan bawah, lereng permukaan, drainase,
kedalaman tanah, tingkat erosi, kepekaan terhadap erosi, komposisi kerikil/batuan,
permeabilitas, ancaman terhadap bahaya banjir dan ancaman terhadap bahaya
longsor. Penentuan kesesuaian penggunaan lahan dilakukan dengan metode
overlay peta penggunaan lahan saat ini dengan peta kelas kemampuan lahan. Hasil analisis kemampuan lahan di DAS Opak dapat dilihat
pada tabel 1 dibawah ini :
Tabel 1.
Hasil Analisis Kemampuan Lahan di DAS Opak
No
|
Kelas Kemampuan Lahan
|
%
|
|
1
|
III
|
16,648.70
|
32.83
|
2
|
IV
|
230.07
|
0.45
|
3
|
V
|
23,805.88
|
46.94
|
4
|
VI
|
6,861.15
|
13.53
|
5
|
VII
|
554.16
|
1.09
|
6
|
VIII
|
2,614.80
|
5.16
|
Luas Total
|
50,714.76
|
100
|
|
Dari data yang terdapat pada tabel 1, dapat di
ketahui bahwa sebagian besar wilayah DAS Opak termasuk dalam kategori mempunyai
kelas kemampuan lahan V sebesar 46,94%, kemudian kelas kemampuan lahan III
dengan prosentase mencapai 32,83%, kelas VI sebanyak 13,53%, kelas VIII dengan
5,16%, kelas VII dengan 5,16% dan terkecil kelas IV dengan 0.45%. Kelas
kemampuan III merupakan kelas lahan untuk pertanian extensive dengan tindakan
konservasi pada tingkat sedang, kelas IV merupakan pertanian marginan dengan
tindakan konservasi yang tinggi, kelas V merupakan lahan yang tidak bias
digunakan untuk lahan pertanian, pemanfaatannya lebih diarahakan untuk padang
rumput dan padang penggembalaan, kelas VI merupakan padang penggembalaan
terbatas dan perkebunan, kelas VII merupakan hutan produksi dan kelas 8
merupakan hutan lindung dan cagar alam. Peta kelas kemampuan lahan di DAS Opak
dapat disajikan dalam gambar dibawah
Gambar 1. Peta Kelas Kemampuan Lahan DAS Opak
Kelas
keserasian lahan diperoleh dengan melakukan proses overlay antara peta kelas
kemampuan lahan dengan peta penggunaan lahan. Dari hasil overlay peta
didapatkan data sebagai berikut :
Tabel
2. Keserasian Lahan di DAS Opak
No
|
Luas
(Ha)
|
%
|
|
1
|
Serasi
|
18,774.77
|
37.02
|
2
|
Tidak Serasi
|
31,940.00
|
62.98
|
Luas Total
|
50,714.76
|
100
|
|
Dari data yang terdapat pada tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar luasan lahan di DAS Opak tidak sesuai dengan peruntukannya. Sebanyak 62,98% kawasan DAS Opak penggunaan lahannya tidak sesuai dengan peruntukannya, sedangkan 37,02% kawasan sudah sesuai dengan peruntukannya. Peta keserasian lahan di DAS Opak dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah di wilayah DAS Opak sangat perlu untuk segera dilaksanakan. Pola pengelolaan lahan saat ini terutama pada jenis penggunaan lahan ladang/tegalan memiliki kontribusi yang sangat tinggi terhadap terjadinya erosi dan tanah longsor dan bahaya banjir. Hal ini perlu segera dilakukan perubahan pola pemanfaatan lahan tersebut sesuai dengan kaidah konservasi tanah dan air, sehingga perlu ditunjang oleh upaya pembinaan dan bimbingan teknis oleh petugas dari sektor pertanian dan sektor terkait lainnya.
Kesimpulan
- Wilayah DAS Opak terdiri atas enam kelas kemampuan lahan yang terdiri atas kelas kemampuan lahan V dengan prosentase 46,94%, kemudian kelas kemampuan lahan III dengan prosentase mencapai 32,83%, kelas VI sebanyak 13,53%, kelas VIII dengan 5,16%, kelas VII dengan 5,16% dan terkecil kelas IV dengan 0.45%.
- Berdasarkan analisis tingkat keserasian lahan, 62,98% wilayah DAS Opak termasuk dalam kategori serasi dan 37,02% termasuk dalam kategori tidak serasi. Upaya perbaikan kondisi lahan dapat dilakukan dengan aplikasi teknik konservasi tanah dan air secara vegetative dan sipil mekanis.
